Postingan

Saat Kau Lelah Menjaga Harap

Gambar
Sebelum masuk ke Part 3, aku ingin meninggalkan satu jeda kecil. Bukan untuk menghentikan cerita, tapi untuk mengajak hati bernapas sebentar. Sebab mungkin, ada bagian dari kisah ini yang tidak hanya perlu dibaca, tapi juga dirasakan pelan-pelan. Saat Kau Lelah Menjaga Harap      "Sebuah jeda sebelum Part 3 ~ Untuk hati yang sedang belajar tetap percaya." Supaya kau ingat ini, makanya aku tuliskan ini untukmu:       Kalau kau lelah menunggu jawaban dari doa-doamu. Maka jangan buru-buru mengira bahwa Allah sedang diam padamu.          Kalau kau merasa jalanmu terlalu lambat, terlalu banyak luka yang harus kau telan sendiri. Maka jangan cepat-cepat menyimpulkan bahwa hidup sedang meninggalkanmu.          Kadang, yang paling besar memang tidak datang dengan tergesa-gesa.     Kadang, yang paling indah memang harus menunggu hatimu lebih siap menerimanya.     Kadang, Al...

Part 2: Ibu yang Bertahan dengan Cara yang Sunyi

Gambar
Tuhan, Aku Pulang Lewat Retak yang Kau Izinkan Part 2: Ibu yang Bertahan dengan Cara yang Sunyi Sesudah aku cukup besar untuk mengenali takut, aku mulai mengenali satu hal lain yang lebih pelan, tetapi jauh lebih lama tinggal di dalam dada. Lelah.  Bukan lelahku. Lelah ibu. Waktu kecil, kita sering mengira ibu adalah orang yang paling kuat di rumah. Paling sanggup. Paling tahan. Paling tidak mungkin roboh. Seolah-olah ibu memang diciptakan untuk selalu baik-baik saja, walaupun dunia di sekelilingnya tidak baik-baik saja. Aku pun dulu begitu. Aku melihat ayah sebagai suara. Aku melihat ibu sebagai tenang. Ayah hadir lewat langkah kaki yang membuat rumah berjaga-jaga. Ayah hadir lewat nada bicara yang bisa mengubah udara dalam sekejap. Ayah hadir lewat ketegasan yang sering terasa lebih dekat dengan takut daripada kasih. Sedangkan ibu, ia hadir lewat hal-hal yang nyaris tidak terdengar. Lewat piring yang sudah tersusun saat kami bangun. Lewat seragam yang sudah rapi sebelum matahari ...

Part 1 : Di Bawah Atap yang Penuh Suara Tinggi

Gambar
Tuhan, Aku Pulang Lewat Retak yang Kau Izinkan Part 1: Di Bawah Atap yang Penuh Suara Tinggi Awal kisah Lunara. Tentang rumah yang dari luar tampak baik-baik saja, tetapi diam-diam menyimpan banyak retak. Ada rumah-rumah yang dari luar tampak baik-baik saja. Kalau orang lewat di depan rumah kami pada pagi hari, mereka mungkin tidak akan menemukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Pintu dibuka seperti biasa. Asap dapur naik pelan dari belakang rumah. Jemuran bergerak ditiup angin. Suara sendok beradu dengan piring terdengar seperti suara keluarga-keluarga lain. Kadang tawa anak kecil juga masih muncul, tipis, sebentar, lalu hilang. Dari luar, rumah kami tampak cukup normal untuk disebut rumah. Cukup biasa untuk tidak menimbulkan curiga. Cukup utuh untuk membuat orang berpikir: ah, keluarga ini baik-baik saja. Tetapi hidup sering kali menyembunyikan luka justru di tempat yang paling pandai tampak tenang. Rumah kami tidak hancur karena hujan. Tidak runtuh karena angin. Tidak pula rapuh ka...

Tuhan, Aku Pulang Lewat Retak Yang Kau Izinkan

Gambar
Prolog Tuhan, Aku Pulang Lewat Retak Yang Kau Izinkan Bismillah. Ada luka yang tidak langsung sembuh, tetapi pelan-pelan mengajari hati cara pulang. Lewat kisah ini, aku ingin mengajakmu masuk ke perjalanan seorang perempuan yang tumbuh di antara retak, kehilangan, dan doa-doa yang lirih. Hingga akhirnya menemukan bahwa jalan pulang yang paling aman selalu bermuara kepada Allah. Ada kepulangan yang tidak dimulai dari langkah kaki. Tidak dari pintu yang diketuk. Tidak dari rumah yang kembali dihuni. Ada kepulangan yang dimulai dari hati yang terlalu lama tersesat, lalu akhirnya lelah berlari. Hati yang pernah pecah oleh banyak kehilangan. Pernah letih oleh luka yang datang bertubi-tubi. Pernah menggenggam dunia terlalu erat karena tidak tahu lagi ke mana harus bersandar. Sampai pada suatu hari, ketika semua yang ditahan tak lagi sanggup dipikul sendirian, ia menengadah...pelan, gemetar, nyaris terlambat...lalu berbisik kepada langit: Ya Allah… aku ingin pulang. Novel ini ada...

Lentera Itu Masih Menyala

Gambar
Lentera Itu Masih Menyala Tidak semua doa langsung menemukan jawabannya, dan itu tidak apa-apa. Ada masa ketika berdoa tidak lagi terasa menenangkan. Kata-kata tetap terucap, tapi hati tertahan di ambang lelah. Malam itu, ia duduk dalam sunyi, menyadari satu hal: harapannya tidak hilang, hanya sedang letih. Ia tidak sedang menuntut jawaban. Ia hanya ingin yakin bahwa doa-doa yang lirih, yang nyaris tanpa suara, tetap sampai. Bahwa Allah tidak menilai kerasnya permintaan, tapi kejujuran hati yang bertahan. Sebuah lentera kecil menyala di sudut ruangan. Cahayanya tidak sempurna, tapi cukup menahan gelap agar tidak sepenuhnya berkuasa. Ia memandangnya lama—dan menemukan dirinya di sana. Iman, pikirnya, tidak selalu hadir sebagai keyakinan yang utuh. Kadang ia hanya kesediaan untuk tidak pergi. Untuk tetap tinggal dalam doa, meski tanpa kepastian. Tidak ada jawaban yang turun malam itu. Namun ada sesuatu yang menetap: kesetiaan kecil untuk tetap berharap. Dan barangkali, itu sudah cukup. ⸻...