Part 2: Ibu yang Bertahan dengan Cara yang Sunyi
Tuhan, Aku Pulang Lewat Retak yang Kau Izinkan Part 2: Ibu yang Bertahan dengan Cara yang Sunyi Sesudah aku cukup besar untuk mengenali takut, aku mulai mengenali satu hal lain yang lebih pelan, tetapi jauh lebih lama tinggal di dalam dada. Lelah. Bukan lelahku. Lelah ibu. Waktu kecil, kita sering mengira ibu adalah orang yang paling kuat di rumah. Paling sanggup. Paling tahan. Paling tidak mungkin roboh. Seolah-olah ibu memang diciptakan untuk selalu baik-baik saja, walaupun dunia di sekelilingnya tidak baik-baik saja. Aku pun dulu begitu. Aku melihat ayah sebagai suara. Aku melihat ibu sebagai tenang. Ayah hadir lewat langkah kaki yang membuat rumah berjaga-jaga. Ayah hadir lewat nada bicara yang bisa mengubah udara dalam sekejap. Ayah hadir lewat ketegasan yang sering terasa lebih dekat dengan takut daripada kasih. Sedangkan ibu, ia hadir lewat hal-hal yang nyaris tidak terdengar. Lewat piring yang sudah tersusun saat kami bangun. Lewat seragam yang sudah rapi sebelum matahari ...