Tuhan, Aku Pulang Lewat Retak Yang Kau Izinkan
Prolog
Tuhan, Aku Pulang Lewat Retak Yang Kau Izinkan
Bismillah.
Ada luka yang tidak langsung sembuh, tetapi pelan-pelan mengajari hati cara pulang.
Lewat kisah ini, aku ingin mengajakmu masuk ke perjalanan seorang perempuan yang tumbuh di antara retak, kehilangan, dan doa-doa yang lirih. Hingga akhirnya menemukan bahwa jalan pulang yang paling aman selalu bermuara kepada Allah.
Ada kepulangan yang tidak dimulai dari langkah kaki.
Tidak dari pintu yang diketuk.
Tidak dari rumah yang kembali dihuni.
Ada kepulangan yang dimulai dari hati yang terlalu lama tersesat, lalu akhirnya lelah berlari.
Hati yang pernah pecah oleh banyak kehilangan. Pernah letih oleh luka yang datang bertubi-tubi. Pernah menggenggam dunia terlalu erat karena tidak tahu lagi ke mana harus bersandar. Sampai pada suatu hari, ketika semua yang ditahan tak lagi sanggup dipikul sendirian, ia menengadah...pelan, gemetar, nyaris terlambat...lalu berbisik kepada langit:
Ya Allah… aku ingin pulang.
Novel ini adalah kisah tentang Lunara.
Tentang seorang anak perempuan yang tumbuh di tengah rumah yang retak, suara-suara yang tinggi, kehilangan yang datang terlalu dini, dan hidup yang memaksanya dewasa sebelum waktunya. Tentang hati yang berkali-kali pecah, tetapi diam-diam tidak pernah berhenti mencari Tuhan.
Lunara bukan perempuan yang selalu kuat.
Ia bukan jiwa yang langsung tenang setelah mengenal jalan pulang.
Ia jatuh, bangkit, jatuh lagi, menangis lagi, lalu perlahan belajar datang kepada Allah dengan segala rapuh yang masih melekat di dalam dirinya.
Di dalam kisah ini, aku ingin menulis tentang pulang.
Bukan pulang yang sederhana.
Bukan pulang yang langsung menyembuhkan semua luka.
Melainkan pulang yang sesungguhnya: pulang kepada Allah dengan hati yang belum utuh, dengan tubuh yang lelah, dengan iman yang tertatih, tetapi dengan satu keyakinan kecil bahwa tidak ada tempat paling aman untuk meletakkan seluruh pecahan diri selain di hadapan-Nya.
Karena kadang, Allah tidak menyelamatkan kita dengan menghilangkan badai.
Kadang Dia menyelamatkan kita dengan membuat hati kita menemukan arah di tengah badai itu.
Jika kelak di setiap part ini kau menemukan dirimu sendiri, pada tangis yang disembunyikan, pada doa-doa yang lirih, pada rindu yang belum selesai, pada takut yang sulit dijelaskan, maka semoga kau tahu:
kau tidak sendirian.
Sebab banyak dari kita memang pulang bukan sebagai pemenang.
Kita pulang sebagai hamba yang remuk, yang akhirnya sadar bahwa bahkan lewat retak yang paling menyakitkan pun, Tuhan masih bisa memanggil kita kembali.
Dan mungkin, dari sanalah cahaya pertama masuk.
~
Jika hatimu pernah retak, semoga kisah ini memelukmu dengan lembut.
Jika matamu pernah basah oleh doa yang tak kunjung terjawab, semoga tulisan ini menjadi teman duduk di sunyimu.
Dan jika hari ini kau sedang berjalan pulang kepada Allah, semoga kau tahu: langkah kecilmu pun dicintai-Nya.
Terima kasih sudah membaca di Lentera Iman.
Semoga dari sini, ada cahaya kecil yang ikut tinggal di hatimu.
Komentar
Posting Komentar