Lentera Itu Masih Menyala
Lentera Itu Masih Menyala
Tidak semua doa langsung menemukan jawabannya, dan itu tidak apa-apa.
Ada masa ketika berdoa tidak lagi terasa menenangkan. Kata-kata tetap terucap, tapi hati tertahan di ambang lelah. Malam itu, ia duduk dalam sunyi, menyadari satu hal: harapannya tidak hilang, hanya sedang letih.
Ia tidak sedang menuntut jawaban. Ia hanya ingin yakin bahwa doa-doa yang lirih, yang nyaris tanpa suara, tetap sampai. Bahwa Allah tidak menilai kerasnya permintaan, tapi kejujuran hati yang bertahan.
Sebuah lentera kecil menyala di sudut ruangan. Cahayanya tidak sempurna, tapi cukup menahan gelap agar tidak sepenuhnya berkuasa. Ia memandangnya lama—dan menemukan dirinya di sana.
Iman, pikirnya, tidak selalu hadir sebagai keyakinan yang utuh. Kadang ia hanya kesediaan untuk tidak pergi. Untuk tetap tinggal dalam doa, meski tanpa kepastian.
Tidak ada jawaban yang turun malam itu. Namun ada sesuatu yang menetap: kesetiaan kecil untuk tetap berharap. Dan barangkali, itu sudah cukup.
⸻
Kita tidak harus kuat hari ini.
Cukup pastikan lentera itu
tidak padam sepenuhnya.
— Penjaga Lentera

Komentar
Posting Komentar