Saat Kau Lelah Menjaga Harap
Sebelum masuk ke Part 3, aku ingin meninggalkan satu jeda kecil. Bukan untuk menghentikan cerita, tapi untuk mengajak hati bernapas sebentar. Sebab mungkin, ada bagian dari kisah ini yang tidak hanya perlu dibaca, tapi juga dirasakan pelan-pelan.
Saat Kau Lelah Menjaga Harap
"Sebuah jeda sebelum Part 3 ~ Untuk hati yang sedang belajar tetap percaya."
Supaya kau ingat ini, makanya aku tuliskan ini untukmu:
Kalau kau lelah menunggu jawaban dari doa-doamu. Maka jangan buru-buru mengira bahwa Allah sedang diam padamu.
Kalau kau merasa jalanmu terlalu lambat, terlalu banyak luka yang harus kau telan sendiri. Maka jangan cepat-cepat menyimpulkan bahwa hidup sedang meninggalkanmu.
Kadang, yang paling besar memang tidak datang dengan tergesa-gesa.
Kadang, yang paling indah memang harus menunggu hatimu lebih siap menerimanya.
Kadang, Allah tidak sedang menahan sesuatu darimu. Dia hanya sedang membentukmu agar ketika sesuatu itu datang, kau tidak kehilangan dirimu sendiri.
Hanya yang sanggup tetap lembut saat dunia membuatnya keras.
Hanya yang sanggup tetap percaya saat keadaan berkali-kali membuatnya ingin menyerah.
Hanya yang sanggup tetap berdoa saat matanya sudah lelah menangis.
Yang pada akhirnya akan mengerti, bahwa tidak ada satu pun kesabaran yang Allah sia-siakan.
Mampukah kau tetap berjalan, meski kakimu gemetar?
Mampukah kau tetap berbaik sangka, meski kenyataan belum berpihak padamu?
Mampukah kau tetap menjaga hatimu, saat banyak hal datang untuk mematahkan keyakinanmu?
Berapa lama kau sanggup menunggu dalam percaya?
Sebulan? Setahun? Bertahun-tahun?
Atau sampai kau benar-benar mengerti bahwa waktu yang diberikan Allah tidak pernah terlambat, hanya sering kali tidak sama dengan waktu yang kau inginkan.
Semakin lama kau ditempa, mungkin semakin besar pula yang sedang disiapkan untukmu.
Semakin dalam kau dilatih untuk sabar, mungkin semakin luas pula ruang bahagia yang kelak akan Allah bukakan.
Semakin sering kau merasa hampir runtuh tetapi tetap memilih kembali kepada-Nya, mungkin semakin dekat pula kau dengan pertolongan yang selama ini kau minta.
Yang kuat bukan yang tidak pernah menangis.
Yang kuat bukan yang tidak pernah takut.
Yang kuat adalah yang berkali-kali hancur, tapi tetap tahu ke mana harus pulang.
Kau sanggup?
Dan aku menjawab pertanyaanku sendiri...
Aku tidak tahu apa aku akan selalu sanggup atau tidak. Aku hanya pernah berdoa...
Ya Allah, jika suatu hari aku harus melewati lagi hari-hari yang berat, hari-hari yang membuat dadaku sempit, hari-hari yang membuat aku tidak mengerti harus bagaimana selain diam dan menangis di hadapan-Mu... Aku mohon, jangan biarkan aku merasa sendirian.
Aku minta Kau pegang hatiku.
Aku minta Kau jaga imanku.
Aku minta Kau tenangkan pikiranku.
Aku minta Kau bisikkan lagi kepadaku bahwa semua ini tidak sia-sia. Bahwa setiap air mata yang jatuh, setiap sabar yang kupaksa, setiap doa yang kuucap dengan suara gemetar, semuanya sampai kepada-Mu.
Aku pernah takut berharap lagi, karena aku tahu bagaimana sakitnya kecewa.
Aku pernah takut percaya lagi, karena aku tahu bagaimana perihnya patah.
Aku pernah takut berjalan lagi, karena aku tahu bagaimana rasanya jatuh berkali-kali.
Tapi kini aku belajar...
Selama Kau bersamaku, ya Allah, tidak ada penantian yang terlalu panjang.
Tidak ada luka yang terlalu dalam.
Tidak ada kehilangan yang benar-benar menghancurkan.
Tidak ada gelap yang tidak bisa Kau terangi.
Karena aku tidak sedang berjalan sendirian.
Aku berjalan bersama-Mu.
Dan bersama-Mu, bahkan hal yang paling melemahkanku pun bisa menjadi jalan untuk mendekat kepada-Mu.
Sungguh, Engkau Maha Mengetahui.
Maha Menjaga.
Maha Menyembuhkan.
Maha cukup untuk segala yang tidak mampu kupikul sendiri.

Komentar
Posting Komentar