Part 1 : Di Bawah Atap yang Penuh Suara Tinggi
Tuhan, Aku Pulang Lewat Retak yang Kau Izinkan
Part 1: Di Bawah Atap yang Penuh Suara Tinggi
Awal kisah Lunara. Tentang rumah yang dari luar tampak baik-baik saja, tetapi diam-diam menyimpan banyak retak.
Ada rumah-rumah yang dari luar tampak baik-baik saja.
Kalau orang lewat di depan rumah kami pada pagi hari, mereka mungkin tidak akan menemukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Pintu dibuka seperti biasa. Asap dapur naik pelan dari belakang rumah. Jemuran bergerak ditiup angin. Suara sendok beradu dengan piring terdengar seperti suara keluarga-keluarga lain. Kadang tawa anak kecil juga masih muncul, tipis, sebentar, lalu hilang.
Dari luar, rumah kami tampak cukup normal untuk disebut rumah.
Cukup biasa untuk tidak menimbulkan curiga.
Cukup utuh untuk membuat orang berpikir: ah, keluarga ini baik-baik saja.
Tetapi hidup sering kali menyembunyikan luka justru di tempat yang paling pandai tampak tenang.
Rumah kami tidak hancur karena hujan. Tidak runtuh karena angin. Tidak pula rapuh karena usia bangunannya yang tua. Rumah kami pelan-pelan retak oleh hal-hal yang tidak bisa dilihat mata orang luar: suara-suara yang terlalu sering meninggi, sabar yang dipaksa tinggal terlalu lama, dan hati-hati yang tak pernah benar-benar saling sampai.
Aku lahir dari rumah yang seperti itu.
Namaku Lunara.
Aku anak kedua dari empat bersaudara. Aku lahir dari dua manusia yang dipersatukan bukan karena mereka saling memilih, melainkan karena orang lain memilihkan jalan untuk mereka. Orang-orang dewasa menyebutnya perjodohan. Nenek adalah orang yang paling menginginkan pernikahan itu terjadi. Mungkin ia percaya cinta akan tumbuh nanti. Mungkin ia percaya dua orang yang tinggal bersama, pada akhirnya akan belajar saling mengasihi. Mungkin ia tidak pernah membayangkan bahwa keputusan orang-orang tua kadang harus dibayar mahal oleh anak-anak yang lahir setelahnya.
Waktu kecil, aku belum mengerti semua itu.
Aku hanya tahu ada sesuatu yang tidak utuh di rumah kami, bahkan ketika semua perabot masih berada di tempatnya.
Aku masih ingat beberapa percakapan keluarga besar yang dulu terdengar seperti angin lalu, tetapi setelah dewasa justru terasa seperti serpihan kaca yang menancap pelan-pelan di ingatan.
“Dulu nenekmu yakin sekali mereka cocok.”
“Katanya cinta bisa datang belakangan.”
Mereka mengatakannya sambil tertawa kecil, seolah itu hanya cerita biasa. Seolah hidup dua manusia memang bisa dipercayakan begitu saja kepada waktu. Seolah kalau cinta tak datang, tak ada siapa-siapa yang akan terluka.
Waktu itu aku masih terlalu kecil untuk membantah, tetapi cukup besar untuk merasa ada sesuatu yang pahit di balik kalimat-kalimat ringan itu.
Setelah tamu-tamu pulang, aku pernah bertanya kepada ibu saat ia sedang melipat baju.
“Ibu dulu mau nikah sama ayah?”
Tangannya berhenti sebentar.
Hanya sebentar.
Lalu bergerak lagi.
“Dulu ibu nurut orang tua,” jawabnya pelan.
Aku belum puas.
“Tapi ibu suka ayah?”
Pertanyaan itu membuat tangannya berhenti lebih lama. Ibu tidak langsung menatapku. Matanya tetap jatuh ke kain di pangkuannya, seolah ada sesuatu di sana yang lebih mudah dihadapi daripada pertanyaanku.
“Ibu belajar menjalani,” katanya akhirnya.
Belajar menjalani.
Bukan jawaban yang utuh. Bukan pula jawaban yang menenangkan.
Tetapi bahkan di umurku yang masih kecil saat itu, aku tahu: kalimat itu tidak lahir dari hati yang bahagia.
Sejak kecil, aku tidak tahu bagaimana rasanya tumbuh di tengah cinta yang tenang.
Yang kukenal adalah ayah dengan wajah kerasnya, ibu dengan sabar yang panjang sekali, dan rumah yang tiap hari seperti sedang menahan napas.
Kami tinggal di sebuah kampung yang sederhana. Jalan-jalannya tidak ramai. Rumah-rumah berdiri rapat. Kalau subuh datang, suara azan dari surau kecil mengalir sampai ke ruang tengah rumah kami. Pagi-pagi, udara membawa bau tanah, bau kayu, dan wangi masakan dari dapur-dapur tetangga. Siang hari, ayam berlarian di halaman. Sore hari, anak-anak kecil berteriak bermain tanpa tahu bahwa di balik beberapa pintu rumah, ada kesedihan yang disimpan sangat rapi.
Rumah kami juga tampak seperti itu.
Ada teras kecil dengan sandal-sandal berserak. Ada meja makan dengan taplak bunga-bunga yang mulai pudar. Ada jemuran penuh seragam sekolah. Ada bunyi panci di dapur. Ada buku pelajaran bertumpuk di sudut kamar. Ada adik bungsuku yang tertawa terlalu keras. Ada abangku yang makin lama makin sering diam. Ada aku, yang sejak kecil lebih banyak memandangi daripada menceritakan.
Dari luar, tidak ada yang terlalu ganjil.
Tetangga mengenal ibu sebagai perempuan yang ramah. Mereka melihat ibu menyapu halaman, menjemur pakaian, menunduk sambil tersenyum kalau disapa. Mereka mengenal ayah sebagai laki-laki pekerja keras yang pulang menjelang petang dengan tubuh lelah dan bau matahari menempel di bajunya.
Dari luar, keluarga kami tampak cukup baik untuk tidak mengundang pertanyaan.
Dan justru itulah yang membuat semuanya terasa lebih sepi.
Karena tidak semua luka cukup keras untuk terdengar orang lain.
Ada rumah yang menangis, tetapi hanya penghuninya yang tahu.
Ada anak-anak yang belajar tersenyum karena tidak tahu bagaimana cara menjelaskan bahwa rumah mereka baik-baik saja hanya sampai pintu depan.
Aku termasuk salah satunya.
Ayahku adalah laki-laki yang tegas. Begitulah orang-orang menyebutnya.
Tegas.
Kata itu terdengar lebih sopan daripada kenyataan yang kurasakan.
Bagiku, ketegasan ayah sering datang seperti cuaca buruk: tanpa aba-aba, tanpa belas kasihan, tanpa memberiku waktu untuk bersiap. Ia bisa hadir dalam tatapan yang tajam. Dalam nada suara yang berubah sedikit saja, tetapi cukup membuat perutku mual. Dalam teguran yang membuat tanganku dingin. Atau dalam diam yang lebih menyesakkan daripada marah.
Sejak kecil, aku hafal bunyi langkah kakinya.
Aku tahu kapan ayah pulang hanya dengan lelah biasa, dan kapan ia pulang membawa sesuatu yang lebih berat daripada lelah. Aku tahu kapan rumah harus mendadak lebih rapi. Aku tahu kapan suaraku harus lebih kecil. Aku tahu kapan adik-adikku harus segera kubawa masuk kamar agar tidak terkena percikan suasana yang akan memburuk.
Aku belajar semua itu jauh sebelum aku belajar memahami diriku sendiri.
Bukan karena aku membencinya.
Tidak.
Anak-anak tidak sesederhana itu.
Sering kali kami tetap mencintai orang yang paling banyak membuat kami takut. Kami tetap menunggu pulangnya. Tetap ingin dipanggil. Tetap ingin diperhatikan. Tetap diam-diam berharap suatu hari ia akan menatap kami dengan lembut, seolah kami bukan kesalahan yang harus selalu diawasi.
Aku mencintai ayah dengan cara yang membingungkan. Aku takut padanya, tetapi juga ingin ia bangga padaku. Aku gemetar setiap kali ia memanggil namaku, tetapi diam-diam berharap suatu hari ia akan memanggilku seperti ayah-ayah lain memanggil anak perempuannya.
Aku tahu ia bekerja untuk kami. Aku tahu ia tidak lari dari rumah. Aku tahu mungkin, jauh di dalam dirinya, ia juga punya cara sendiri untuk mencintai. Hanya saja, cinta yang tidak tahu jalan pulang sering kali berubah menjadi sesuatu yang melukai.
Dan anak-anak, tanpa diminta, sering menjadi saksi pertama dari luka itu.
Aku tumbuh dengan perasaan yang aneh terhadap ayah: ingin dekat, tetapi takut; ingin dipuji, tetapi lebih dulu gemetar; ingin dicintai, tetapi tak pernah benar-benar tahu bentuk cinta seperti apa yang boleh kuharapkan darinya.
Kadang aku berpikir, mungkin ayah juga lelah.
Mungkin hidup telah mengeraskannya. Mungkin dunia memukulnya terlalu sering di luar rumah, lalu ia pulang membawa sisa-sisa pukulan itu ke dalam rumah kami.
Tapi anak kecil tidak punya kemampuan sehebat itu untuk memahami orang dewasa.
Yang ia tahu hanya rasa. Dan rasa yang tinggal dalam diriku waktu itu adalah: waspada.
Waspada pada langkah kaki.
Waspada pada nada suara.
Waspada pada suasana meja makan.
Waspada pada udara yang mendadak berubah hanya karena satu kalimat dilontarkan terlalu tinggi.
Begitulah aku tumbuh.
Bukan sebagai anak yang paling berani. Bukan juga sebagai anak yang paling pandai membantah. Aku tumbuh menjadi anak yang sangat hati-hati. Aku belajar diam sebelum diminta. Belajar menelan kecewa tanpa suara. Belajar merasa bersalah bahkan untuk hal-hal yang belum tentu salah. Belajar menjadi kecil agar tidak menambah ribut dunia orang dewasa.
Dan tanpa kusadari, sejak umur yang terlalu dini, aku mulai percaya bahwa supaya tetap disayang, aku harus menjadi anak yang tidak merepotkan.
Aku harus tenang.
Aku harus patuh.
Aku harus tidak banyak minta.
Aku harus tidak berisik.
Aku harus tidak membuat siapa pun semakin lelah.
Padahal cinta yang sehat tidak pernah meminta seorang anak mengecilkan dirinya sendiri.
Tetapi siapa yang menjelaskan itu kepada Lunara kecil?
Tak ada.
Yang ada hanya rumah kami.
Dan di bawah atap rumah itulah, aku pertama kali belajar bahwa sesuatu bisa tampak utuh, padahal di dalamnya sedang retak pelan-pelan.
Lanjut ke Part 2
Di balik rumah yang tampak tenang itu, ada luka yang belum selesai bernapas. Dan Lunara belum tahu, hidupnya akan segera berubah lebih dalam dari yang bisa ia bayangkan.
Baca kelanjutannya di Part 2.
Religius & menyentuh “MasyaAllah, tulisannya mengingatkan bahwa setiap luka pun punya jalan pulangnya. Semoga jadi amal jariyah dari tulisanmu.” kakakku
BalasHapus“diriku membaca pelan-pelan… dan jujur, ini relate banget. Terima kasih sudah menuangkan perasaan seindah ini.”
Maasyaa Allah dek, terima kasih sudah menyelami setiap kata dengan hati .
HapusTulisan ini hanyalah perasaan yang dititipkan… biarlah Allah yang menuntunnya sampai ke hati yang tepat.
Aamiin Allahumma Aamiin 🤲🏻
Sama sama kak ..
HapusAmiin amiin...iya kak ..Allah yang menuntun kita ke jalan yang tepat selalu . insyaallah kak...🥰
Next kak Van 🤍💔
BalasHapusTerima kasih dekku sudah mampir dan membaca pelan-pelan. Insyaa Allah akan kakak lanjutkan🥰
Hapus